Jumat, 27 Mei 2016

PENDUGAAN UMUR MENGGUNAKAN GIGI PADA TERNAK RUMINANSIA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
            Ternak potong di Indonesia memiliki arti yang sangat strategis, terutama dikaitkan fungsinya sebagai penghasil daging, tenaga kerja, penghasil pupuk kandang, tabungan atau sumber rekreasi. Arti yang lebih utamanya adalah sebagai komoditas sumber pangan hewani yang bertujuan untuk kesejahteraan manusia,memenuhi kebutuhan selera konsumen dalam rangka meningkatkan kualitas hidup, dan mencerdaskan rakyat.
            Untuk  memenuhi kebutuhan pangan dan gizi bagi masyarakat. Khususnya kebutuhan protein hewani yang bersumber dari daging, maka subsector peternakan sebagai salah satu bagian dari pembangunan pertanian harus dikembangkan. Dengan demikian, peluang pasarnya selalu tersedia setiap saat dan selalu meningkat setiap tahun seiring dengan pertambahan jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan gizi. Bahkan, akhir-akhir ini Indonesia mendapat pangsa pasar sebanyak tiga juta ekor domba tiap tehun untuk diekspor ke Negara Malaysia dan Timur Tengah.
1.2. Tujuan Praktikum
            Mahasiswa memahami dalam menentukan umur ternak sapi dan domba.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Ir. Herry Soeprapto, MP dan Ir. Zainal Abidin, (2006) Penentuan umur dengan melihat pertumbuhan gigi lebih akurat dibandingkan dengan metode pengamatan lingkar tanduk, namun, cara ini tergolong sulit dilakukan dan membutuhkan latihan. Umur sapi potong diduga dengan melihat pertumbuhan gigi dan tingkat keausannya.
Pendugaan umur sapi berdasarkan tumbuhnya tanduk dan cincin tanduk adalah yang paling kurang akurat. Oleh karena itu pendugaan dengan cara ini jarang dipergunakan. Prinsipm pendugaan umu5r berdasarkan cincin tanduk didasarkan pada pengaruh pakan. Alasannya, diIndonesia terjadi musim kemarau dan musim hujan (Undang Santosa, 1995).
M. Zein Syarief dan R. M. Sumoprastowo (1984) mengatakan sapi dara dapat dikawinkan untuk pertama kali pada umur antara 18-20 bulan. Untuk menentukan umur sapi dapat dilihat giginya. Hal ini dilakukan dengan harapan bahwa sapi dara mulai bernak pertama kali pada umur 28-30 bulan. Karna itu hendaknya ditujukan untuk kecepatan pertumbuhan, dengan cara memperhatikan kualitas dan kuantitas ransum yang diberikan kepadanya.
Ketika memilih bibit hendaknya kita dapat menaksir umur sapi seperlunya; untuk itu kita perhatikan giginya.ada 4 pasang gigi seri pada rahang bawah sapi; pada rahang atas gigi seritidak ada. Waktu-waktu pergantian gigi-gigi seri pada rahang bawah, yaitu gigi kecil menjadi gigi lebar, dapat dijadikan pedoman untuk menaksir umur sapi (Z.B. Tafal Drh, 1981).
Menurut Bambang Agus Murtidjo, (1990) menaksir usia sapi merupakan salah satu pengetahuan yang perlu dikuasai oleh petani ternak. Pengetahuan itu bisa dipergunakan untuk mengadakan seleksi sapi yang akan dibeli dan dipelihara, baik sebagai bbibit atau digemukkan. Pada dasarnya , taksiran dengan metode gigi sapi adalah memperhitungkan pertumbuhan, pergantian, dan keausan gigi sapi. Pertumbuhan gigi sapi sendiri terbagi tiga preode, yakni: preode gigi susu, preode pergantian gigi susu menjadi gigi tetap, serta preode keausan gigi tetep.
 Pada ternak ada beberapa cara untuk menentukan umurnya:
         1)      Dengan mencatat tanggal lahir
            Dengan mencatat tanggal lahir maka umur ternak yang bersangkutan dapat diketahui oleh karena itu sebaiknya peternak mencatat tanggal lahir ternaknya pada buku cerpen atau pada dinding kandang untuk mengetahui ternak yang mana yang dicatat tanggal lahirnya ternak yang bersangkutan diberi tanda.
                        2)      Dengan melihat keadaan gigi seri
            Ternak ruminansia termasuk sapi tidak mempunyai gigi taring. Gigi seripun hanya terdapat pada rahang bawah. Sedangkan rahang atas hanyalah berupa bantalan tenunan pengikat yang kuat. Gigi geraham terdapat pada kedua rahang. Jumlah gigi seri ada 4 pasang (8 buah). Gigi seri susu ini sifatnya hanya sementara. Karena pada suatu saat akan tanggal (rontok) dan digantikan dengan gigi seri tetap. Pergantian  gigi seri susu dan gigi seri tetap ini yang digunakan untuk menaksir umur ternak. Sedangkan pada ternak tua ditaksir berdasarkan keausan gigi seri ini, berhubungan dengan kondisi pakan. Ternak yang dilepas/diangon, gigi serinya relatif lebih cepat tanggal atau aus dari pada tenrak yang dikandangkan (Y. Bambang Sugeng, 1992). 


BAB III
MATERI DAN METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
3.1. Lokasi Pelaksanaan Praktikum
            Lokasi praktikum dilaksankan di jalan Sedayu II, Kelambir V, dirumah bapak Amin pada tanggal 15 April 2016
3.2. Alat dan Bahan
            Alat                 : - Alat tulis
                                      - Kamera
            Bahan              : - Ternak Sapi
3.3. Prosedur Praktikum
a)      Pilihlah ternak yang akan dilihat giginya
b)      Foto dan tentukan umurnya
c)      Tulis data yang di dapat


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Ternak
Pengamatan Gigi
Sapi 1
Gigi seri I1 berubah menjadi gigi seri tetap
Sapi 2
Semua gigi seri sudah tergesek
Domba 1
Gigi seri I3 berubah menjadi gigi seri tetap
Domba 2
Gigi seri I1 dan 2 sudah tergesek

4.2. Pembahasan
            Dari data diatas pada ternak Sapi I menunjukan umur 1,5 - 2 tahun ditandai dengan gigi seri I1 berubah menjadi gigi seri tetap dan Sapi II menunjukan umur 1 tahun ditandai dengan semua gigi seri sudah tergesek. Sedangkan untuk domba, Domba I pendugaan umur ialah 2,5 – 3 tahun ini ditandai dengan gigi seri I3 berubah menjadi gigi seri tetap dan untuk Domba II umur 6 bulan ini ditandai dengan gigi seri I1 dan 2 sudah tergesek. Menurut Ir. Herry Soeprapto, MP dan Ir. Zainal Abidin, (2006) Penentuan umur dengan melihat pertumbuhan gigi lebih akurat dibandingkan dengan metode pengamatan lingkar tanduk, namun, cara ini tergolong sulit dilakukan dan membutuhkan latihan. Umur sapi potong diduga dengan melihat pertumbuhan gigi dan tingkat keausannya.




BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
1.Dengan melihat keadaan gigi, paling sering dilakukan dilapangan karena mudah dan praktis
2. Melihat keadaan gigi diterapkan karena peternak jarang menggunakan rekording.
5.2 Saran
            Adapun saran dalam praktikum ini agar para praktikan lebih teratur agar suasana lebih tenang dan kondusif.


DAFTAR PUSTAKA
Bambang Agus Murtidjo. 1990. Beternak Sapi Potong. Kanisius. Yogyakarta.

            Undang Santosa. 1995. Tatalaksana Pemeliharaan Ternak Sapi. Penebar Swadaya. Jakarta.  

               Ir. Herry Soeprpto, MP dan Ir. Zainal Abidin. 2006. Cara Tepat Penggemukan Sapi Potong. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Ir. M. Zein Syarief dan R.M. Sumoprastowo C.D.A. 1984. Ternak Perah. Yasa Guna. Jakarta.

Y. Bambang Sugeng. 1992. Sapi Potong. Penebar Swadaya. Jakarta.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar